Kost-an sepi sekali.
Anak anak dah pada mudik sejak beberapa hari yang lalu, yang tersisa tinggal aku dan Rima.
Dan Rima pun siang ini siap untuk mudik ke pulau sumatera.
Di lantai bawah, Ibu kos lagi bikin kue keju sambil nyanyi nyanyi. ( alhamdulillah aku dapat jatah mencicipi satu toples hehe.. )
” Im, kapan pulang ? ” tanya Ibu.
” Ga tau bu, mungkin besok ” Jawabku.
” Perasaan dari kemarin besok besok terus. Wah jangan jangan nemenin ibu nih lebaran disini “
” Hehe..abis males bu “
Kutengok kamarku.
Hmm…rapi.
Bahkan sejak 4 hari yang lalu.
Semua pakaian dah tergantung rapi di lemari.
Bahkan seprei, selimut, mukena, handuk dan pakaian berat lainnya pun dah istirahat dengan tenang di lemari.
Perabotan rumah tangga dah bertengger dengan cling dalam lemari. Wah pokoknya semua harta benda dah masuk kandang masing masing, g ada yang berkeliaran g jelas termasuk bantal guling.
Tak lupa kasur jg dah dijungkirkan, bahkan koran koran bertebaran menutupi rak buku, meja dan lemari.
Lantai teramat sangat bersih dan wangi.
Sepertinya dah sangat siap untuk ditinggalkan penghuninya.
Di bangku samping meja telepon dah berbaris pula 1 buah tas ransel berisi macem macem perbekalan mudik, 1 jinjingan berisi pesenan pesenan adik, mama, apa, nenek, bibi dan ponakanku, 1 kantong oleh oleh makanan siap santap, 1 kantong makanan siap olah.
Fhuh…makin malas.
Sebenarnya…sejak kuliah…mudik lama lama adalah kesukaanku…bisa sejenak lari dari para stressor.
But…mudik idul fitri…???
Oh no…mudik termalas yang harus kujalani…
Malas menghadapi berbagai pertanyaan dan pernyataan yang selalu ingin kutanya balik..” Ga da pertanyaan lain niih…???? “
Selalu muhadatsah yang sama…
” Neng, kapan nikah ? “
” Wah g tau… “
” Calonnya orang mana neng ? “
” Ga ada calon kok “
” Wah masa sih, pasti ada. Cuma malu kali takut ketauan mama papa “
” Lho…emang beneran ga ada “
” Masa lama tinggal di kota, ga ada teman laki laki satupun “
” Teman laki laki ya banyak, tapi da ga ada yang pacar “
” Atau nengnya yang pilih pilih kali jadi cowoknya pada takut “
” Da gimana…ya…soalnya teman teman cowok saya juga sama, ga pada pacaran “
Duuh…gimana neranginnya ya…
Malah ada yang dengan polosnya mengatakan : ” Neng…anak saya aja yang orang ‘kecil’, ga sekolah, orang kampung, ga cantik…ada yang mau, masa eneng nggak “
Glek…
Dulu…aku suka jelasin apa adanya…
” Saya dan teman teman emang ga pada pacaran, pacarannya nanti kalau dah nikah”
Tapi malah mereka tambah bingung…
aku juga ikut bingung…
akhirnya sekarang aku paling ambil cepet aja…
” Insya Allah…doain aja ya….”
Masih mending kalo beres sampai disitu.
Tak jarang Idul fitri suka dijadikan ajang jodoh jodohan.
” Anak saya kuliahnya dah selesai…”…
” Cucu saya dah kerja…”…
” Kenalin ponakan saya…”
Cape deeehh…
Satu hal lagi…
” Neng kerja di perusahaan apa ? sebagai apa ? gajinya berapa ? kerjanya hari apa aja ? “
” Neng…kenapa ga ikutan daftar PNS ? “…
” Neng, kapan jadi PNS ? “
ooppss…
Kalau hal ini aku lebih suka memilih tersenyum maaniiissss sekalii…
Bekerja di mata mereka diukur dengan rutinitas waktu, kantor yang jelas, gaji yang tetap, status yang jelas…
Terutama kalau jadi PNS, status termewah di mata mereka.
O..ow..
Dalam hal ini pula ibuku selalu bertanya ” Kok mama merasa anak mama beda sama orang lain yaa ..?? “
Beda karena ga pernah mau betah bekerja di satu tempat dengan jadwal yang terikat, seragam yang tertentu.
Aku yang lebih suka dengan aktivitas sosial dan riset.
Aku yang berjiwa ‘freedom’.
Selama masih bisa mencari nafkah untuk sekedar tercukupi kebutuhanku dan tidak membebani orang lain, apa masalahnya…???
Bukankah pekerjaan itu memang banyak…bahkan lebih banyak dari persediaan usia kita…
Tak sadarkah mereka bahwa setiap langkahku adalah pekerjaan.
Mengapa pekerjaan harus dibatasi dengan ruang dan pakaian tertentu.
Tentang penghasilan bukankah kewajiban kita adalah mengusahakan maisyah…tak melulu maisyah disandangkan pada para pekerja kantoran bergaji, wajibnya kan sekedar memenuhi nafkah diri dan orang orang dalam tanggungan kita, masalah dari mananya tugas kita kan hanya mencari halalan toyyiban.
Kalau semua pekerjaan diorientasikan untuk uang…
Kalau semua maisyah diharuskan berasal dari pekerjaan yang tertentu…
ahhh aku bingung
Yang pasti aku punya persepsi dan gaya sendiri dalam memenuhi kewajiban maisyahku dan menjalani pekerjaanku.
Masalah jodoh…rizki…kan rahasia Allah
Kita manusia hanya bisa berusaha sesuai batas yang Allah berikan.
Atau…
Kenapa mereka tidak bertanya soal yang lebih pasti dari pada kedua hal tadi
” Neng…kapan meninggal ? “
Ugh…kalo bisa…
Aku ingin mudik kemanapun asal jangan ke desaku.
Tapi…Bagaimanapun aku kangen ngumpul dengan Ibu, Ayah dan Adikku.
Hmmm…
Allah…
This entry was posted on Saturday, October 21st, 2006 at 12:20 am and is filed underUncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed. Edit this entry.
3 Responses to “Mudik..???”
ikhwan Says:
October 21st, 2006 at 4:11 pm edit1.stressor ternyata ga di kota aja yah…
2.kluarga kangen tuh kayanya
3.cape terus kata2nya….ABCDE=Aduh Boo Cape DE….hehhehe
4.taqabbalallahu minna wa minkum…
5.kalo t2h pulang pasti ada oleh2,jadi pulang aja teh…heheehe…kalo bisa tuh seledri pundungan dibawa juga:Dneng IIM Says:
November 3rd, 2006 at 8:52 pm editbuat ikhwan :
1. karena kampungnya dah jadi kota, or orang kota bawa bawa stressor ke kampung ???
2. ehem..kayanya…
3. bisaan
4. taqabbal ya karim
5. berat atuh wan…ripuh !!!lala Says:
November 20th, 2006 at 3:07 am editwah curhatan dirimu banyak banget,kayaknya tiap peristiwa akan berbeda ceritanya. tapi biasanya ujung2nya….