M U D I K . . .??? ( mindahin dari blog FS-ku, 21 okt 2006 )

31 October 2009 by Muhimmah Afrendy

Kost-an sepi sekali.

Anak anak dah pada mudik sejak beberapa hari yang lalu, yang tersisa tinggal aku dan Rima.

Dan Rima pun siang ini siap untuk mudik ke pulau sumatera.

 

Di lantai bawah, Ibu kos lagi bikin kue keju sambil nyanyi nyanyi. ( alhamdulillah aku dapat jatah mencicipi satu toples hehe.. )

” Im, kapan pulang ? ” tanya Ibu.

” Ga tau bu, mungkin besok ” Jawabku.

” Perasaan dari kemarin besok besok terus. Wah jangan jangan nemenin ibu nih lebaran disini “

” Hehe..abis males bu “

 

Kutengok kamarku.

Hmm…rapi.

Bahkan sejak 4 hari yang lalu.

Semua pakaian dah tergantung rapi di lemari.

Bahkan seprei, selimut, mukena, handuk dan pakaian berat lainnya pun dah istirahat dengan tenang di lemari.

Perabotan rumah tangga dah bertengger dengan cling dalam lemari. Wah pokoknya semua harta benda dah masuk kandang masing masing, g ada yang berkeliaran g jelas termasuk bantal guling.

Tak lupa kasur jg dah dijungkirkan, bahkan koran koran bertebaran menutupi rak buku, meja dan lemari.

Lantai teramat sangat bersih dan wangi.

Sepertinya dah sangat siap untuk ditinggalkan penghuninya.

 

Di bangku samping meja telepon dah berbaris pula 1 buah tas ransel berisi macem macem perbekalan mudik, 1 jinjingan berisi pesenan pesenan adik, mama, apa, nenek, bibi dan ponakanku, 1 kantong oleh oleh makanan siap santap, 1 kantong makanan siap olah.

 

Fhuh…makin malas.

 

Sebenarnya…sejak kuliah…mudik lama lama adalah kesukaanku…bisa sejenak lari dari para stressor.

 

But…mudik idul fitri…???

Oh no…mudik termalas yang harus kujalani…

 

Malas menghadapi berbagai pertanyaan dan pernyataan yang selalu ingin kutanya balik..” Ga da pertanyaan lain niih…???? “

 

Selalu muhadatsah yang sama…

” Neng, kapan nikah ? “

” Wah g tau… “

” Calonnya orang mana neng ? “

” Ga ada calon kok “

” Wah masa sih, pasti ada. Cuma malu kali takut ketauan mama papa “

” Lho…emang beneran ga ada “

” Masa lama tinggal di kota, ga ada teman laki laki satupun “

” Teman laki laki ya banyak, tapi da ga ada yang pacar “

” Atau nengnya yang pilih pilih kali jadi cowoknya pada takut “

” Da gimana…ya…soalnya teman teman cowok saya juga sama, ga pada pacaran “

 

Duuh…gimana neranginnya ya…

 

Malah ada yang dengan polosnya mengatakan : ” Neng…anak saya aja yang orang ‘kecil’, ga sekolah, orang kampung, ga cantik…ada yang mau, masa eneng nggak “

Glek…

 

Dulu…aku suka jelasin apa adanya…

” Saya dan teman teman emang ga pada pacaran, pacarannya nanti kalau dah nikah”

Tapi malah mereka tambah bingung…

aku juga ikut bingung…

akhirnya sekarang aku paling ambil cepet aja…

” Insya Allah…doain aja ya….”

 

Masih mending kalo beres sampai disitu.

Tak jarang Idul fitri suka dijadikan ajang jodoh jodohan.

” Anak saya kuliahnya dah selesai…”…

” Cucu saya dah kerja…”…

” Kenalin ponakan saya…”

Cape deeehh…

 

Satu hal lagi…

” Neng kerja di perusahaan apa ? sebagai apa ? gajinya berapa ? kerjanya hari apa aja ? “

” Neng…kenapa ga ikutan daftar PNS ? “…

” Neng, kapan jadi PNS ? “

ooppss…

Kalau hal ini aku lebih suka memilih tersenyum maaniiissss sekalii…

 

Bekerja di mata mereka diukur dengan rutinitas waktu, kantor yang jelas, gaji yang tetap, status yang jelas…

Terutama kalau jadi PNS, status termewah di mata mereka.

O..ow..

 

Dalam hal ini pula ibuku selalu bertanya ” Kok mama merasa anak mama beda sama orang lain yaa ..?? “

Beda karena ga pernah mau betah bekerja di satu tempat dengan jadwal yang terikat, seragam yang tertentu.

Aku yang lebih suka dengan aktivitas sosial dan riset.

Aku yang berjiwa ‘freedom’.

Selama masih bisa mencari nafkah untuk sekedar tercukupi kebutuhanku dan tidak membebani orang lain, apa masalahnya…???

 

Bukankah pekerjaan itu memang banyak…bahkan lebih banyak dari persediaan usia kita…

Tak sadarkah mereka bahwa setiap langkahku adalah pekerjaan.

Mengapa pekerjaan harus dibatasi dengan ruang dan pakaian tertentu.

 

Tentang penghasilan bukankah kewajiban kita adalah mengusahakan maisyah…tak melulu maisyah disandangkan pada para pekerja kantoran bergaji, wajibnya kan sekedar memenuhi nafkah diri dan orang orang dalam tanggungan kita, masalah dari mananya tugas kita kan hanya mencari halalan toyyiban.

 

Kalau semua pekerjaan diorientasikan untuk uang…

Kalau semua maisyah diharuskan berasal dari pekerjaan yang tertentu…

ahhh aku bingung

 

Yang pasti aku punya persepsi dan gaya sendiri dalam memenuhi kewajiban maisyahku dan menjalani pekerjaanku.

 

Masalah jodoh…rizki…kan rahasia Allah

Kita manusia hanya bisa berusaha sesuai batas yang Allah berikan.

 

Atau…

Kenapa mereka tidak bertanya soal yang lebih pasti dari pada kedua hal tadi

” Neng…kapan meninggal ? “

 

Ugh…kalo bisa…

Aku ingin mudik kemanapun asal jangan ke desaku.

 

Tapi…Bagaimanapun aku kangen ngumpul dengan Ibu, Ayah dan Adikku.

 

Hmmm…

Allah…

This entry was posted on Saturday, October 21st, 2006 at 12:20 am and is filed underUncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed. Edit this entry.

3 Responses to “Mudik..???”

  1. ikhwan Says:
    October 21st, 2006 at 4:11 pm edit1.stressor ternyata ga di kota aja yah…
    2.kluarga kangen tuh kayanya
    3.cape terus kata2nya….ABCDE=Aduh Boo Cape DE….hehhehe
    4.taqabbalallahu minna wa minkum…
    5.kalo t2h pulang pasti ada oleh2,jadi pulang aja teh…heheehe…kalo bisa tuh seledri pundungan dibawa juga:D
  2. neng IIM Says:
    November 3rd, 2006 at 8:52 pm editbuat ikhwan :
    1. karena kampungnya dah jadi kota, or orang kota bawa bawa stressor ke kampung ???
    2. ehem..kayanya…
    3. bisaan
    4. taqabbal ya karim
    5. berat atuh wan…ripuh !!!
  3. lala Says:
    November 20th, 2006 at 3:07 am editwah curhatan dirimu banyak banget,kayaknya tiap peristiwa akan berbeda ceritanya. tapi biasanya ujung2nya….

KANGEN G G M ( mindahin dari blog Multiply-ku, 23 Sept 2008 )

31 October 2009 by Muhimmah Afrendy

Salah satu agenda yang ada dalam daftar aktivitasku di jakarta adalah ikut taekwondo.

Tapi sudah 2 bulan ini masih belum menemukan tempat yang ‘cocok’ untuk gabung.

 

Sebenarnya cukup mudah mencari unit taekwondo.

Salah satunya datang saja ke kampus kampus, insya Allah pasti ada ekskul ini.

 

Tapi entahlah…aku masih merasa kurang sreg dengan tempat tempat yang ditemui.

Aku masih memakai standard GGM ( Gelanggang Generasi Muda / Gelanggang Pemuda Bandung ) sebagai tempat ternyaman untuk ikut taekwondo versiku.

 

Alasannya :

1. Tempatnya nyaman dan ada di pusat kota Bandung.

Akses kendaraan mudah, kalau mentok kemaleman tidak ada angkot, jalan kakipun cukup nyaman karena pepohonan teduhnya sepanjang trotoar, dan banyak juga yang jalan kaki.

 

2. Sambil menunggu jam latihan, bisa ‘nongkrong’ dulu di Gramedia.

Atau untuk yang hobi shopping, di samping GGM ada BIP / BEC.

Atau kalau malas keluar, bisa tetap di gedung GGM menonton kelas sebelumnya.

Aku juga kadang sering memilih ini, karena di kelas sebelah ada kelas salsa, lumayan bisa menyimak gerakannya…kali aja suatu saat suami ngajak salsa, jadi ga bodo bodo banget ( kalau suaminya ternyata emang lebih bodo ;p)

 

3. Sabum/pelatihnya itu lho.

Kan sudah ’sepuh’, jadi ngajarin kita tuh kayak bapak mengajari anaknya.

Tegas, telaten dan sabar.

Tidak ada senioritas atau ‘belagu2an’.

Ramah, komunikatif, akrab, pokoknya enak deh.

Sabumku, bang Andar Sihite, konon, beliau dah jadi pelatih disitu sejak tahun 1983.

Wah…aku baru lahir tuh.

 

4. Anggotanya.

Ini dia yang susah dicari ditempat lain.

Aku adalah anggota dengan usia tertua ;)

Tapi tetep kalo sparing kebagian ma anak SD, karena badanku kecil .

Dari sekian anggota yang tidak terlalu banyak ( ini membuat kami mudah akrab dan seperti saudara ) kebanyakan masih SD & SMP, beberapa SMA, beberapa dalam jumlah yang lebih sedikit lagi dalah mahasiswa tingkat awal.

Latihan taekwondo ( beladiri yang terkenal cukup ‘keras’ ) jadi terasa menyenangkan dan terasa menjadi refreshing, terutama untuk orang orang sepertiku yang dah mulai banyak mikirin beban hidup ;)

Anak anak yang masih lugu, polos, semangat, atau kadang manja dan kecapean kalau lagi musim ujian sekolah adalah hiburan tersendiri untuk psikisku.

Kalau pas latihan harus pasangan dan jumlahnya ganjil, biasanya yang sering jadi korban untuk pasangan ma lain gender tuh ya aku…tapi dengan anak kelas 5 SD.

Dan parahnya semakin tinggi tingkat sabuknya anak anaknya makin kecil kecil.

Sabuk rendah didominasi oleh para mahasiswa.

 

5. Karena yang ikut kebanyakan anak kecil dan waktu latihannya malam hari, biasanya banyak para orangtua yang juga standby menonton anak2nya.

Disela sela latihan kadang aku bisa menyempatkan ngobrol dan menimba ilmu keorangtuaan ke mereka.

 

Aduh….kangen GGM, kangen sabum Bang Andar Sihite, Nisywa, Dilla, Aldi, Bayu, Fauzan, Mira, Firas, Gery,… (siapa lagi ya, yang rajin latihan itu sih…)

Miss U …

SESEORANG, DIATAS GEROBAK ROTI ( mindahin dari blog multiply-ku, 24 okt 2008 )

31 October 2009 by Muhimmah Afrendy

Kemarin, pagi pagi sekali, di tempat nunggu bis menuju kampus, di belokan,

beberapa meter di depanku, seorang bapak melambai lambaikan tangannya ke arah mobil mobil yang lalu lalang, yang tak sempat memberinya sepetak jalan untuk lewat,

dia hampir diserempet sebuah sedan.

 

Aku hampir berteriak memanggilnya,

dia berlalu tanpa menyadari kehadiranku beberapa meter didekatnya,

suaraku tercekat ditenggorokan, terhalang sesuatu yang tiba tiba menyesakkan dadaku.

 

Aku tahu, sudah sangat tahu,

bahwa laki laki itu setiap pagi melewati jalan ini, berpacu diantara arus mobil ibukota yang mengejar jam kerja.

Dia juga bekerja, dan itu memang pekerjaannya.

Kondisi ini sangat aku tahu sejak bertahun tahun.

Tapi baru kali ini semua menjadi nyata di depan mataku.

 

Seorang jenius yang tak sempat menyelesaikan SDnya karena beban kesulitan hidup.

Seorang yang tak pernah bosan belajar.

Seorang yang mampu menularkan aura kebenaran disekelilingnya.

Seorang yang tawadhu dengan kemuliaannya.

Seorang yang tangguh dalam ketawakalannya.

Seorang yang membaja semangatnya.

Seorang dengan harga diri yang tinggi.

Seorang yang pantang berutang, hidup sesulit apapun.

Seorang yang dideklarasikan ibunya sebagai ‘yang tidak pernah membuat sedih dan susah orangtua’.

Seorang hamba yang Allah kirimkan untuk menjadi sumber inspirasiku.

Seorang yang mengisi sebagian besar episode hidupku.

 

Allah,

Biarkan jerit harapan ini sampai di arasy kemustajabanMu.

Aku ingin menjadi kebahagiaannya.

Aku ingin menjadi penentram hari tuanya.

Aku pun ingin menjadi yang terdeklarasikan sebagai ‘yang selalu menjadi kebahagiaan dan penyejuk jiwa orangtua’.

 

Biarkan diri ini menjadi kaya…

kaya harta, kaya hati, kaya ilmu, kaya amal, kaya cinta, kaya dengan keberkahan dan ketawadhuan.

Biarkan tangan ini mampu mengangkat derajat orang orang yang meneguhkan derajatku.

Aku ingin berbakti.

 

Ternyata kakiku melangkah semakin jauh, mencoba menjejaki sisa sisa pijakannya.

Tapi diapun semakin jauh,

sejauh pandanganku yang makin kabur terhalang aliran hangat menyengat di pelupuk mata.

 

Dia semakin jauh…

di atas gerobak rotinya…

 

” irhamhum…kamaa rabbayani…”

Kenangan Bersama Ayah ( mindahin dari blog FS-ku, 18 Des 2006 )

31 October 2009 by Muhimmah Afrendy

“ Dalam sebuah perjalanan menyusuri pantai utara

Berkereta di tengah malam Surabaya – Jakarta ”

 

Nasyid Suara Persaudaraan mengalun dari MP3 playerku, menemani tengah hari perjalanan Yogyakarta – Bandungku.

 

Haqqon, seumur hidupku ini pertama kalinya aku naik kereta

( eh, ga juga ding, yang pertama tuh kemarin, 4 hari yang lalu waktu aku berangkat ke Yogya, dan sekarang arus balikku, back to Bandung )

norak ya…

tapi ya…emang baru kali ini ada kesempatan melakukan perjalanan yang mengharuskan naik kereta…

ternyata asik juga…palagi gratisan gini hehe…

 

” Kuteringat masa indah, di masa masa kecilku

Kenangan bersama Ayah di kampung halaman ”

 

Lagu ini selalu menarik rasa rinduku pada Ayah.

 

Hamparan sawah yang kulewati sepanjang rel memperkuat semua memori tentang Ayah.

Mungkin saat ini Ayah juga lagi di sawah, menengok kebun, kolam dan ternak peliharaannya.

Aku tersenyum.

Hmm…Ayah…

” Sungguh indah…

Terlalu manis untuk dilupakan

Sungguh mesra…

Meski beriring ketegangan…”

 

Lintasan masa kecilku yang cukup berwarna bermain di pelupuk mataku.

Waktu yang banyak kuhabiskan bersama Ayah.

Ke manapun Ayah pergi aku selalu ikut.

( Didaerahku biasanya seorang Ayah akan merasa malu bila harus membawa serta anaknya.

Pengasuhan anak mutlak menjadi tanggung jawab Ibu.

Tapi Ayah selalu bilang ” Anakku harus terbiasa berada di lingkungan besar dan serius, untuk melatih mental dan karakternya ”. )

 

Saat Ayah mengajar di sekolah, Ayah membiarkanku ikut duduk di kelas berbaur dengan murid yang lain,

atau sekedar ngerecoki obrolan guru guru di kantor waktu istirahat.

 

Saat Ayah rapat, ngisi pengajian, atau ceramah, sering aku membuntuti naik ke mimbar.

Dan sepulang ke rumah aku akan meniru yang Ayah lakukan di depan sepupu sepupuku.

Aku selalu berharap bisa seperti Ayah.

Dimataku, Ayah selalu serba tau, serba bisa, selalu benar.

Ayah selalu berhasil membuatku kagum dan bangga.

Ayah menjadi idolaku…

 

” Suasana pengajian petang seperempat malam pertama

Riuh rendah suara hapalan dan cemeti hukuman

Liku liku perjuangan para pahlawan islam

Yang gagah perkasa di medan perjuangan

Yang tak takut mati untuk meraih kejayaan islam ”

Setelah Ashar hingga Isya kuhabiskan waktuku di madrasah,

disana setiap malam Ayah mengajariku tentang tsaqafah islam, hafalan qur’an, juga cerita tentang Rosul dan sahabat.

Dari jendela kereta yang nampak tak jernih lagi, kulihat serombongan anak dengan seragam SD dan TPA.

Melintas sejenak bayanganku di usia yang sama dengan mereka.

Ayah selalu bilang

” Kamu sekarang sudah sekolah, sudah punya tanggung jawab sendiri.

Kalau kamu tidak shalat, tidak ngaji, tidak belajar, Ayah wajib memukulmu.

Sebentar lagi kamu baligh, semua urusanmu tanggungjawabnya bukan lagi pada Ayah dan Ibu, tapi dengan Allah ”

Seiring usiaku yang semakin bertambah, aku merasa Ayah pun berubah.

Kalau nilai atau hafalanku di bawah teman yang lain Ayah suka marah.

Tapi walaupun aku mendapat nilai tertinggi Ayah selalu saja memberiku nilai standard rata rata,

” kalau kamu ingin mendapat nilai yang tinggi, cari guru yang lain. ”

 

Kalau aku ketahuan nangis di sekolah ( heran juga…kenapa ya waktu SD aku cengeng sekali ) pasti di rumah aku akan mendapat warning dari Ayah.

Saat teman temanku ribut atau becanda berlebihan maka yang Ayah marahi adalah aku.

Aku tidak mengerti mengapa Ayah bisa begitu baik dan menyenangkan bagi murid muridnya yang lain,

hingga banyak dari mereka yang mengidolakannya.

Dan akupun sering nangis diam diam.

Ayah galak…

” Ayah…

Terima kasih nanda haturkan kepadamu

Yang telah mendidik dan membesarkanku bersama Ibu ”

 

Setelah 12 tahun menghabiskan waktu jauh dari Ayah

dan melihat berbagai Ayah yang pernah kutemui disekelilingku,

aku kembali tersadarkan betapa Allah menempatkan anak dan orangtua dengan kapasitas yang tepat.

 

Aku tersadar bahwa Ayah yang kulihat sekarang tak lagi sama dengan yang sering ada didekatku dulu.

Aku merasa Ayah saat ini sangat jauh berubah.

Ayah semakin sabar, makin bijaksana, makin tenang.

Ayah bilang ” Ah, sekarang kan Ayah sudah tua ”

Jawaban yang aku tafsirkan sebagai senyum ketegaran dan ketabahan dibalik rasa lelah dan letih membesarkanku.

Ayah…

aku hanya bisa menangis menikmati menatap wajah letih dan tuamu saat kau tertidur di dinginnya lantai menghilangkan kepenatan.

Dan setiap kali kutanya ” Ayah ridho padaku ??? ”

Ayah selalu menjawab ” Ayah selalu meridhoi kalian anak anak Ayah ”

 

Aku tahu bahwa anugerah terindah bagiku saat Allah menjadikan Ayah tempatku untuk tumbuh dan berkembang.

Hingga kini aku tumbuh dewasa dan mengerti banyak hal.

Ayah…

Engkaulah guruku yang terbaik sepanjang usiaku

Yang telah membimbing masa kecilku

Menuju jalan Tuhanku ”

 

Kalau kudengar teori di kuliahanku bahwa guru pertama dan terbaik bagi seorang anak adalah orangtuanya, aku setuju,

karena memang kalian sudah membuktikannya padaku.

Kalau dipikir pikir, semua guru dan dosen yang mengajariku kerjaannya cuma nge-modif apa yang sudah kalian tanam dengan kuat di hati dan pikiranku

( punten ah…Bapak dan Ibu guruku sayang…tidak bermaksud meniadakan hehehe…)

Tapi memang itulah yang sebenarnya…

membaca, menulis, berhitung, mengaji, etika, bahasa, moral, ibadah, prinsip, idealisme yang mengisi lembar lembar putih kosong diriku adalah kalian.

 

Masih ingatkah Ayah waktu aku mulai masuk sekolah SD dan Ayah mewajibkanku berjilbab,

lalu aku sering menangis karena sering diejek dan dicemooh.

Sering orang bilang ” Orang yang pakai kerudung itu akan sulit sekolah di negeri dan mendapat pekerjaan ”

 

Ayah selalu menghiburku

” Apa yang musim di masa sekarang belum tentu berlaku di masa yang akan datang.

Ayah yakin saat kamu dewasa orang tak akan lagi asing dengan jilbab, mungkin saja suatu saat nanti orang yang sekolah dan bekerja disyaratkan harus berjilbab.

Yakin saja jika kamu cerdas maka seperti apapun kondisi dan penampilanmu orang tidak akan peduli, karena yang mereka butuhkan adalah skillmu.

Jangan pernah takut berbeda dengan zaman yang ada selama yang kamu lakukan yakin sesuai dengan yang Allah inginkan,

dengan sendirinya zaman yang akan mengikutimu ”

Ayah selalu menjadi penghibur, penyemangat, inspirator dan peneguh pijakanku saat aku kebingungan memilih jalan atau menentukan langkah.

 

Ayah…yang selalu mengulang ngulang nasihat…

” Jadilah manfaat untuk umat, barakah dimanapun kamu berada, bagi siapapun, golongan apapun, kalangan manapun, ”

 

Ayah…sosok yang selalu menjadi tauladan di mata murid muridnya,

yang menjadi figur penasihat dan penengah bagi masyarakatnya,

yang selalu ditakuti dan dihindari oleh atasan atasannya yang dzalim,

yang menjadi pribadi yang bijaksana bagi saudara saudaranya, yang selalu mampu membangkitkan senyum teman temannya dengan selera humornya,

yang selalu menjadi guru dan qawwam terbaik bagi istri dan anak anaknya.

 

” Satu hal yang Ayah sesali Ayah tidak bisa masuk dan menguasai dunia remaja, hingga Ayah tidak bisa menemani masa remaja kalian ” itulah yang sering Ayah keluhkan.

” Allah…

Smoga kau berkenan membalas sgala kebaikannya

Menerimanya dan meridhoinya

Di hadiratmu…”

Ayah…

Kutau Ayah begitu berharap banyak padaku.

Seperti yang sering Ayah katakan saat kucium tanganmu setiap usai shalat.

Saat Ayah meminta maaf padaku atas semua kekurangan pengabdianmu sebagai orangtua.

Ayah…

Tak ada sedikitpun keinginanku untuk membuat Ayah sedih atau sakit hati

Tapi…Ayah…

Banyak hal yang kau tak tahu…tentangku…

Yang pasti akan membuat Ayah sedih dan kecewa…

Ayah…

Aku memang bukan anak yang berbakti…

Aku tak mampu memenuhi harapanmu untuk menjadikanku sesuatu

Aku tak bisa menjadi kebanggaanmu

Ayah…maafkan…

Allah…

Banyak sekali pintaku padamu untuk Ayah.

Allah…

Kau tau jauh didalam hatiku ku ingin bisa berikan apapun untuk kebahagiaan Ayah

Melebihi dunia dan seluruh isinya

Allah…

Sediakan untuk Ayah pengistirahatan terbaik disurgamu kelak

Aku yang menjadi saksi bahwa Ayah telah menunaikan amanahnya

Rabbanaa taqabbal du’a

To : Ayah

Im sayang Apa

This entry was posted on Monday, December 18th, 2006 at 11:07 pm and is filed underUncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed. Edit this entry.

7 Responses to “KENANGAN BERSAMA AYAH”

  1. Andy Says:
    December 19th, 2006 at 1:40 pm editUntuk Ayah Tercinta…
    aku ingin bertemu…
    walau hanya dalam mimpi…

     

    (jadi kangen euy ma Ayah :( ( )

  2. neng IIM Says:
    December 19th, 2006 at 10:14 pm editto : Andy
    Sok atuh…cepetan pulang…jangan kelamaan di Mesir ; )
  3. ikhwan Says:
    December 28th, 2006 at 7:35 am editadakan hari Ayah…
    hidup ayah..
  4. ikhwan Says:
    December 28th, 2006 at 7:39 am editt im teh gini ya…
    tulisan jrang muncul
    waktu muncul banyak banget
    bikin buku aja teh…
  5. neng IIM Says:
    December 30th, 2006 at 3:24 am editprotes yang sama dengan fajar di bukom jaringan beberapa tahun lalu…
    “teh kalo nulis jangan banyak banyak, dikit tapi sering, dicicil” kurang lebih gituh lah…
    sok dari pada kaya di bukom karisma, satu nomor teh cuman satu baris..
    contoh…:
    96. sepi di sekre ga da sapa sapa
    97. dari pada bengong ngisi bukom ah
    98. nulis lagi ah…biar cepet nyampe no 100
    99. nomor cantik euy
    100. akhiirnyaaa…nyampe nomor 100
    sok tah….pan beuki teu puguh ;p
  6. nana Says:
    January 29th, 2007 at 12:54 am editjadi nangis bacanya,,,, walaupun bapakku tdk seperti yang dinyanyikan SP, tp aku tetap merasa He is The Great Man in The world,,,
  7. iriin Says:
    May 1st, 2007 at 3:33 am editpasti… beberapa saudara ini sangat dekat dengan sosok ayah… jadi mengingatkan ku akan bapak… bapakku meninggal saat ku lulus sd dengan nem tertinggi di sekolah ku, yang seharusnya kuhadiahkan untuk beliau (alm)…

Si Kemod ( mindahin dari blog multiply-ku, 01 Des 2008 )

31 October 2009 by Muhimmah Afrendy

Dia namanya Kemod ( bukan nama sebenarnya ). Dia teman sekelasku waktu SD. Orangnya… ahh…jangan dibayangkan seperti anak anak SD zaman sekarang, apalagi anak anak dari sekolah berlabel terpadu atau internasional. Anak SD zamanku dulu semua seragam…setelah lewat jam 7 pagi, semua bau ayam. Efek dari keringat dan iler karena terlalu aktif bergerak, berlari, berguling, di lantai, di tanah, di aspal. Kemod juga salah satu stereotip mereka. Ditambah denganpembawaannya yang cuek, agak kasar dan polos.

Kadang, tiap menjelang ashar, Kemod nongkrong duduk diatas pagar kolam depan rumahku. Membawa daun talas, lalu asyik memberi makan ikan ikanku sambil kadang teriak teriak baca surat surat pendek atau nimpalin santri yang sedang belajar di madrasah depan rumahku.

Sering kudengar Ibu bicara dengan Ayah tentang tingkah si Kemod itu.
” Pa, kayaknya si Kemod pengen ikutan ngaji tuh, tiap jam anak anak ngaji, dia datang bawa daun talas buat makanan ikan sambil melihat ke madrasah. Kalau anak anak sudah mau bubaran dia lari. Kasian pa.”

Tingkah si Kemod tak hanya jadi perhatian orangtuaku, tapi juga jadi bahan hiburan dan tertawaan anak anak yang lain, malah kadang jadi sasaran kemarahan tetanggaku yang emang sentimen sama anak anak. Berisik katanya.

Hingga suatu hari, Si Kemod datang dengan prosesi yang sama, saat santri mulai belajar, 5 menit kemudian dia datang memikul segembol daun talas, lalu mulai menyamankan posisi semedinya di atas pagar kolamku, sambil tangannya sibuk menyobek nyobek daun dan melempar kekolam, mulutnya teriak teriak mengikuti santri yang sedang menghapal surat Al Adhiyat. Tapi karena dia tidak tau persis apa yang di baca, dia hanya teriak teriak “…..nananana…dobha. nanana…dobha…”
rupanya sang kakek tetanggaku yang sering sentimen ( dan sering diisengi anak anak ) merasa terganggu dan keluar sambil mengacung acungkan sebelah sandal jepitnya,
” Tong gandeng di dieu, indit siah, ku aing ditalapung ” ( Jangan berisik disini, pergi sana, aku tendang kau )
Kemod tiba tiba diam, sambil membereskan buntelan daunnya dia bersiap siap pergi. Ayahku keluar dari madrasah. Kemod teriak teriak “….nanana…dobha. nanana…dobha…” sambil mengacungkan buntelan daunnya dan menunjuk ke kolam sambil menatap Ayahku. Seolah dia mohon perlindungan ” Tolong selamatkan aku dari kakek ini, aku tidak bikin onar kok cuma ngasih makan ikan. Aku juga bisa ngaji kaya santri didalam.”
Melihat Ayahku, si kakek masuk kerumahnya tanpa bicara apapun.
Ayahku menghampiri Kemod.
” Kamu lagi ngapain disini? “
” Saya ngasih makan ikannya Bapak, tuh tuh pak, ikannya pada lapar “
” Pake apa ? “
” Daun talas “
” Gimana kalau ikannya gak mau? “
” Pasti mau, kan sebelum kesini saya juga ngasih makan dulu ikan di kolam Bapak saya “
” Ni, dengar ya Kemod, Ikan di kolam Bapak itu udah rutin dikasih makan, jadi gak akan kelaparan. Lagipula ngasih makan ikan tidak harus ditungguin sepanjang hari kayak kamu gini, simpan saja daunnya di kolam, nanti juga habis “
Kemod terdiam.
” Daripada kamu nongkrong teriak teriak disini mengganggu orang lain, mending kamu masuk sana ikut ngaji sama yang lain “
Kemod berbinar ” Boleh pak? “
” Ya boleh, daripada kamu disini mengganggu aja “
Kemod tiba tiba murung ” Tapi pak, saya nggak punya uang buat bayar SPP “
” Disini beda sama sekolah, gak ada SPP “
” Katanya pake bayaran ? “
( Memang beberapa orangtua yang cukup ‘mampu’ suka mengumpulkan uang yang nantinya akan digunakan untuk imtihan anak anak santri kalau ada acara acara PHBI )
” Ya sudah, kamu tiap sore bawa makanan ikan aja, jadinya bapak atuh nyantai sekarang mah gak usah ‘ngarit’. Masuk sana ” Kata Ayahku sambil tersenyum
Si Kemod berlari lari kegirangan masuk ke madrasah sambil tetap teriak teriak “..nanana…dobha…nanana…dobha…”
Aku dan teman teman yang sejak tadi menyimak dibalik kaca madrasah bersorak menyambut dia.

16 Tahun kemudian…
suatu sore…
Aku berjalan kaki menuju rumah kakekku.
” Hai cewek ” tanganku dicolek genit seorang anak kecil ingusan usia TK yang sedang main tanah didepan rumah gubuknya dipinggir jurang
Hampir kupelototi anak kecil kurangajar itu kalau saja Ibunya tidak segera menyembul keluar dari rumah ekstra mini itu,
” Aduh bu guru, maaf…maaf ” sang Ibu tergopoh gopoh meminta maap padaku sambil setengah menjewer si anak.
” Ga apa apa. Eh hati hati itu mainnya, nanti jatuh ke jurang ” jawabku
Bapaknya keluar, si anak di sentil
” Wei ga sopan, itu ibu guru “
Aku kaget plus kagum
” Kemod…??? “
” Iya. Ini anak sama istriku. Ini rumahku. Hayu mampir. Hah…kamu mah biar pinter, sekolah tinggi, tinggal dikota juga belum punya anak, belum punya rumah. Hah…kalah sama aku “
Hahaha…aku tertawa. Dia tetap cuek, kasar dan polos. ( Kebahagiaan dan kesuksesan begitu sederhana buatmu. Tapi kamu benar Kemod, Ketentraman. Itu yang masih aku cari )

” Hai…bu gulu ” si anak tiba tiba mencolek tanganku lagi .
Aku tersenyum, lalu merogoh sakuku. kuselipkan uang 5000 rupiah di tangan anak centil itu. Jumlah itu mungkin sangat tak seberapa. Tapi aku yakin akan memberi kebahagiaan kecil untuk keluarga sederhana ini.
” Jadi anak shalih ya…”
Aku pamit.

Allah…biarkan aku bersyukur dengan beragam  dunia yang kau beri disekelilingku

Angka 9

9 September 2009 by Muhimmah Afrendy

Hari ini tanggal 9 september 2009. Kalo ditulis singkat jadi 090909. Angka cantik ? yang jelas..moga hari ini yang bertepatan di bulan ramadhan menjadi hari penuh keberkahan untuk kita semua.

Bukan tentang angka 9 hari ini yang ingin aku ceritakan. Tapi hari ini jadi mengingatkanku pada kejadian 10 tahun lalu. Tepatnya 090999, yap, 9 september 1999.

Pada hari itu, salah satu sahabat dekatku waktu SMP ( Leni ) nikah. Saat itu aku kelas 2 SMA kalo gak salah. Aku diundang. Tempatnya di Cianjur.

Satu sisi, aku ingin hadir dan tentu kangen dengan sahabatku itu. Apalagi disana pasti aku bisa bertemu juga dengan teman2 SMPku yang berasal dari daerah Cianjur, Sukabumi, Bogor dan sekitarnya. Karena memang sahabat2 dekatku selama SMP kebanyakan dari 3 daerah itu.

Satu hal lagi, Seumur umur aku belum pernah pergi ke luar kota yang jauh kecuali Kuningan sendirian. Apalagi mengingat belum pernah sekalipun aku ke Cianjur, apalagi tahu daerahnya Leni sahabatku itu.

Tapi menjelang hari H, tiba2 beredar gosip2 gak jelas diseputar asrama ( entahlah kalo diluar sana, akses terbatas ). Gosip bahwa tanggal 9 itu akan menjadi hari yang penuh huru hara. Dari mulai gosip matahari akan menghilang tiba2 dan akan terjadi kekacauan, sampai pada gosip Gunung Ciremai yang berdiri kokoh dibelakang asramaku, akan meletus.

Percaya gak percaya…dan lebih banyak gak percayanya sih. Malah diasrama kadang bentuk huru hara itu banyak diplesetkan jadi becandaan lucu.

Tapi ketika aku memberitahukan rencanaku ke teman2 dan ustadz diasrama tentang rencanaku ke Cianjur, mereka dengan berbagai komentar dan nasehat berusaha melarangku.

Singkat cerita, dengan pertimbangan kangen sama Leni, pengen sejenak refreshing dari dunia asrama, juga pengen jalan jalan, ditambah dengan gosip yang makin simpang siur dan mengkhawatirkan, dengan tekad penuh aku putuskan untuk berangkat ke Cianjur. Dipikir2 daripada mati hanyut dimakan lahar Ciremai, mending tabrakan gara2 matahari tiba2 hilang. Asumsinya, lari dari lahar itu tidak mungkin, tapi turun dari Bis dan terjebak gelap di jalan itu lebih baik.

Kekeras kepalaanku itu membuat pasrah teman2ku, dengan satu syarat harus ada teman, jangan berangkat sendirian. Tapi tak satupun temanku yang mau ngambil resiko pergi jauh di hari yang mencemaskan itu, padahal tadinya aku berharap ada salah satu teman putra yang bisa aku andalkan kalo ada apa2 di jalan. Akhirnya dengan berbagai rayuan mulai dari diongkosin dan lain2 akhirnya Noera mau menemaniku.

( nyambung besok deh )

Aku hamil….!?*&!@#$??

3 August 2009 by Muhimmah Afrendy

Masuk bulan Juli aku tiba tiba merakus, bawaannya pengen makan terus.

Satu sisi senang, setelah hampir 2 tahun, baru kali ini merasakan makan senafsu ini.

Satu sisi merasa bersalah juga, jadi sering jajan, tentunya mengganggu sirkulasi uang belanja bulanan.

Tapi misuaku yang saat itu lagi di Riau seneng aja memikirkan istrinya akan menggendut, seperti yang selama ini beliau harapkan.

Hingga tanggal 11 Juli, sepulang kuliah, aku ketemu Dean di koridor kampus,

” Teh, kok gendutan ? “

Aku cuma senyum.

Emang sih beberapa hari ini rasanya pipiku menggembil.

” Jangan jangan lagi hamil nih ” lanjut Dean.

” Iya kali De, doain aja ya…” jawabku melayani becandaan Dean.

Sampai kost, kok tiba tiba ada feeling kalau aku emang hamil ya ( beberapa hari kemudian aku baca disebuah buku bahwa feeling hamil seorang wanita itu kadang bisa jadi pertanda ‘hubungan’ batin dia dengan rahimnya bahwa dia memang hamil ).

Perasaan tiba2 ‘merasa hamil’ ini aku rasakan dalam beberapa hari lalu.

Waktu aku massage di salon, kok tiba2 pengen nyeletuk ” Mbak, perutnya ga usah ya…” saat itu aku tiba2 merasa diperutku ada ‘makhluk’.

Juga waktu teh Yomi komentar ” Ari kamu teh sakit gini lagi hamil ? ” tanyanya yang saat itu aku memang sering tiba2 demam.

Saat itu aku hanya senyum, tapi tiba2 meng’iyakan’ dalam hati.

Setelah kejadian komentar Dean itu, tiba2 aku pengen iseng becandain misua.

Kukirim SMS  ” mas, kok rakus mulu nih, aku juga menggendut, Dean nyangkain aku hamil “,

Aku anggap itu SMS iseng aja sekalian pengen nyapa misuaku yang jauh di Riau sana, berhubung aku dan misua memang tidak sedang bikin deadline untuk segera punya anak, malah rencananya menunggu beberapa lama dulu.

Misua cuma balas ” beli testpack gih, kalo hamil jaga makanmu !”

Aku senyum2 sendiri membayangkan misua yang lagi bete.

Ba’da isya, aku baru ngeuh kalau aku memang udah telat haid. Tilawahku udah muter lagi ke juz 5, itu artinya aku telat 5 hari.

Tapi kupikir telat beberapa itu hal biasa.

Malamnya ke apotik beli obat batuk, karena hampir 2 pekan ini aku batuk terus, sekalian beli testpack.

Dini hari menjelang QL, aku testpack.

Mmmm…tiba tiba muncul 2 garis.

Saat itu barulah kerasa degdegan dan agak linglung.

Bararingung…campur aduk.

Tapi garis kedua samar.

Aku langsung sms teh Yomi. Komennya ” Kalau keluar 2 garis itu hamil, say. cepetan cek ke dokter, kamu jangan minum2 obat sembarangan “

QLku tiba2 kosong…duduk terpana teu puguh rasa.

Ba’da shubuh aku SMS adikku, chacha, dengan embel2 jangan kasih tahu ortu dulu!.

Adikku mereply SMS “Hore..hore..aq bakal punya ponakan sendiri..cihuy..”

Setelah itu baru rasanya darahku mengalir lagi di setiap nadiku, hangat, bahagia.

Setidaknya ada orang2 yang berbahagia.

Wajar adikku begitu bahagia.

Selama ini dia hanya punya satu ponakan dari salahsatu sepupuku yang memang lebih sering menghabiskan waktu dirumah orangtuaku dan sangat manja pada aku dan adikku. Adikku sangat menyayanginya.

Hmm…mungkin adikku memang kangen punya ponakan sendiri.

Doakan sistmu ya dek…

Suami Romantis ???

16 June 2009 by Muhimmah Afrendy

” Teh, sering berantem ama mas Bayu ga? “

Tanya sepupuku waktu aku maen ke rumahnya di daerah tangerang.

Hmmm…katanya masa masa awal nikah itu masa madu sekaligus racun.

Madu, karena lagi romantis2nya. Racun, karena masa adaptasi yang rentan dengan pertengkaran.

Bagaimana denganku.

Kita bahas racunnya dulu deh.

Masalah berantem…sepertinya aku dan misua bisa dibilang sangat jarang berantem.

Latar belakang ‘dunia’ kami yang memang sangat berbeda mungkin sangat berpotensi melahirkan perbedaan dan pertengkaran. Tapi dari awal ketika aku memutuskan ‘ya’, misua meyakinkan bahwa kami berdua akan saling bergerak dari zona nyaman masing2 ke arah yang kutub yang berlawanan. Keyakinan tentang saling melengkapi dan menyempurnakan juga tekad untuk selalu bersama belajar dan berkembang, menjadikan tiap perbedaan yang ditemui menjadi sesuatu yang ‘lucu’.

Mulai hal kecil sampai hal besar. Misal standard hidup, selera, kebiasaan.

Beda banget.

Tapi aku nyaman ketika belajar ‘menjadi Bayu’. Dan sering misua pun ‘terkagum kagum’ dalam prosesnya ‘menjadi Imas’.

Tak ada yang saling memaksa. Kami menikmati semua pengalaman baru. Sampai sejauh ini sih begitu.

Sama sekali gak berantem ?

Ga juga.

Sering banget, hampir tiap hari malah, aku ngomel2. Omelan2 panjang yang kadang bisa jadi bahan seminar. Misal : awalnya ngomelin misua yang kalo makan nasinya cuma seuprit…bla bla bla…kadang setelah sekian menit jadi membahas hal yang tidak ada hubungannya sama makan.

Ah mungkin ngomel2 emang salah satu ‘basic need’ kali ya…

Dan misua…kalem aja dengan urusannya sendiri.

Jadi dua duanya pada autis.

Madunya ( ah semoga tidak ada hubungannya dengan ‘madu’ versi dunia sebelah )

Misuaku romantis ?

Romantis tu gimana sih ?

Sering mengungkapkan kata kata puitis ? memberi hadiah2 kecil sebagai kejutan ? perhatian ? Manggil sayang, cinta dkk ?

Kalo romantis adalah kaya gitu…misuaku…GA BANGEEEEDH..

Misuaku kalo ngomong apa adanya dan to the point. Abis pergi2 keliling pulau suka gak ngeuh beliin oleh2. SMS / nelpon ya…kalo ada perlu aja, itupun singkat dan seperlunya.

Kecewa dong ? biasanya cewek kan seneng dengan perhatian dan ‘rayuan’.

Nah itu dia…mungkin ini juga salah satu hikmah kami berjodoh.

SEKUFU. SAMA SAMA GAK ROMANTIS. DAN GA SUKA DIROMANTISIN.

Sejak gadis ( cuit cuit )…sejak ABG lah…

Aku paling ilpil kalo ada cowok pedekate dengan perhatian yang berlebihan, suka mual dan pengen muntah kalo ada yang sms ngerayu pake puisi. Ga suka dengan hal hal hadiah remeh temeh. Ga suka basa basi.

Bahkan aku tak pernah berharap misua melakukan hal hal seperti itu.

Hidup jadi monoton dong.

Ga juga. Justru dengan beginilah hidup jadi berwarna.

Kalo aku pengen sesuatu ya tinggal ngomong, dan misua pasti akan mengabulkannya ( tentu tanpa proses2 yang dramatis kayak india ).

Misua menunjukkan perhatiannya kadang sambil ngancem dan nyeret2 aku.

misal ” berobat atau tar aku jadi ketularan sakit ? ” lalu aku diseret ke apotik beli obat.

” beli kacamata atau minmu makin gede ? ” trus aku diseret ke optik.

Kadang sering terjadi obrolan santai pelepas lelah khas suami istri yang sepintas terdengar seperti sebuah diskusi ilmiah, padahal kalo disimak hanyalah obrolan2 gak jelas tentang hal hal ‘gila’ yang mungkin tak akan dibicarakan oleh orang orang waras.

Tapi kadang kok aku ngerasa kayak gitu tuh romantiiiisssss banget.

Hehe…

Misuaku memang aneh. Tapi karena dia aneh itu yang membuatku suka. Dan pasti dia jawab ” Hati itu hanya akan dipersatukan dengan yang sejenis “.

Hahaha…

( Aku jadi inget Soulmateku si manusia flat : Alawiyah )

Misuaku juga begitu flat. dan aku suka :)

Akhirnya jadi Ibu Rumah Tangga

1 June 2009 by Muhimmah Afrendy

Mulai hari ini anak anak kost diboleheun masak. Wah seneng banget.

Setelah agak pikir pikir, aku mau masak ayam lada hitam aja ah.

Lagian sepertinya badanku tanda2 mau flu, udah rada jangar, moga aja jadi agak plong.

Semangat banget.

Pagi pagi kepasar pagi di jalan wahab, depan mantan kosan misua. Beli ayam untuk ukuran 2 porsi. Aku dan misua seleranya sama, seneng dada ayam.

Beberapa bumbu serba dikit ajah.

Lada hitamnya harus ke minimarket, di pasar ga ada ternyata.

Pulang kuliah mampir ke mini market sekalian beli brokoli dan paprika juga wortel.

Misua kalo makan emang harus ada unsur sayurnya.

Proses perendeman ayam dengan bumbu, juga peracikan bumbu aku lakukan di kamar, coz males turun ke dapur dengan bawaan seabrek. Oiya, kamarku ada dilantai 2, dapur dilantai 1.

Didapur aku tinggal masak si ayam lada hitam tea, singkat cerita beres aja.

Hmmm…wangi…

Tinggal penyajian.

Dengan hati2 aku tuang menu hari ini kepiring kecil oval warna putih yang sebelumnya sudah aku lap bersih. Serpihan kotak warna merah paprika, orange wortel dan hijau brokoli yang masih terlihat segar menggoda menghiasi hidanganku. Tak lupa, finishing dari secuil tomat yang diiris tipis melingkar diatasnya.

Penting banget ini. Karena misua itu tak akan mau menyentuh makanan dengan penampakan yang tak eye caching.

Urusan makan, misua memang agak selektif, beda sama aku yang maen hajar yang penting wareg.

Fhuh…nasi hangat, hidangan cantik, segelas air jeruk hangat terhidang di tengah kamar yang rapi, bersih dan wangi.

Itadakimashu……………….

Saatnya makan…………………..

Tapi misua masih di Riau.

Ya sudah…makanan 2 porsi aku bahas sendirian aja. hiks…hiks…

Ternyata malam itu…bagian dari sejarah !!

30 May 2009 by Muhimmah Afrendy

Kalau tidak salah, kisah ini terjadi di akhir tahun 2001. Waktu itu sedang PCP yang kelak nama GFnya adalah fadlan.

Aku saat itu baru berumur satu semester di Karisma. Aku memilih masuk divisi jaringan. Suatu divisi yang aku bayangkan mirip2 dengan jaringan OSIS yang sempat aku bentuk waktu SMA. Tapi ternyata sepertinya beda, karena dari beberapa pembina yang sempat aku tanyai jawabannya agak njelimet. Kesimpulannya, konon katanya divisi ini yang paling tak terdefinisikan dan banyak mikirnya yang bikin pusing.

Saat itu kadivku kang Winandar Amijaya. Kepada siapa lagi anggota baru bertanya selain langsung pada kadiv.

Sore itu di sela sela kesibukan PCP, kang Win sempat menjelaskan banyak hal ke aku dan juga seorang teman akhwat ( aku lupa siapa ya…? )  ( tapi haqqon, puyeng…ga ngerti ). Katanya memang untuk bisa memahami konsep jaringan dibutuhkan kesabaran dan ketekunan berfikir.

Berhubung kang Win ( katanya ) waktu itu lagi sibuk dengan berbagai amanah, tak bisa punya banyak kesempatan untuk mentransfer konsepnya ke junior2 baru seperti aku da temanku ini.

Sebelum obrolan kami berakhir, kang Win cuma berwasiat ” Kalo kalian ingin tahu lebih banyak tentang konsep jaringan, tar saya minta salah seorang anak jaringan yang sudah lebih senior dari kalian untuk mentransfer. Namanya Bayu. GF Firdaus. Tinggi pake kacamata. Tar malem kan kalian mendampingi CP untuk observasi remaja, saya usahakan kalian bareng sama Bayu. Tar kalian bisa tanya2 sama beliau. “

Rapat pun bubar.

Aku sudah hampir satu semester di Karisma. Tapi bisa dibilang tak ada satu ikhwanpun yang aku benar2 kenal.

Hafal nama2nya karena sering dengar, tapi tak tahu yang mana orangnya.

Beberapa yang sering beredar disekitar salman agak tahu rupa tapi ga tahu nama.

Dan saat itu aku sangat cukup menghindari interaksi dengan makhluk bernama ikhwan / cowok ( generasi saat itu memang hijab fisiknya sangat kuat )

Aku bingung, yang mana orang yang namanya Bayu.

Di sekre akhwat aku dengan agak berbisik nanya ke seorang pembina akhwat senior.

” Teh, Bayu Firdaus yang mana yah ? “

” Tinggi pake kacamata. Tuh tadi ada di sekre ikhwan “

Aku keluar sekre sekalian mau langsung ke mesjid, waktu melewati sekre ikhwan aku ga berani melirik. Setelah di pintu gedung kayu aku berdiri agak menjorok keluar menunggu para ikhwan yang satu persatu beranjak dari sekre menuju mesjid.

Aku ga berani nanya ke para ikhwan itu siapakah diantara mereka yang namanya Bayu GF Firdaus.

Tiba tiba terlihat dari ujung ekor mataku yang dari tadi nunduk, seorang ikhwan tinggi berkacamata keluar.

Aku berbisik ke salah seorang teman akhwat yang kebetulan lewat,  ” Ikhwan itu GF Firdaus bukan ? “

” Iya. ” Jawab akhwat itu.

Dengan pasti karena telah tahu manakah seniorku yang bernama Bayu yang nanti akan bareng di pendampingan observasi remaja. aku bergegas ke mesjid.

Ba’da isya, observasi remaja di mulai. Seperti biasa targetnya adalah sepanjang jalan Dago.

Setiap kelompok di dampingi 4 orang pembina ikhwan dan akhwat yang akan mengawasi dan membimbing ( juga melindungi kalo ada apa2 ).

Aku dengan teman akhwatku yang tadi sore rapat bareng duduk di depan BCC, tempat yang cukup strategis untuk memantau CP.

Mataku ( dengan hati2 ) menyapu sekitar mencari sosok senior Bayu. Harusnya saat ini kami mulai membicarakan konsep jaringan. Tapi yang dari tadi menguntit kelompok kami adalah 2 orang ikhwan yang juga berkacamata, yang satunya aku tahu bernama kang Seno, yang satunya aku tidak kenal. Tapi tak ada penampakan ikhwan yang tadi aku lihat di tangga sekre.

Agak kesel. Tapi mungkin kang Win ga sempet pesen ke petugas PCP atau ada perubahan pendamping.

Alhasil selama hampir 2 jam itu kami hanya duduk2 ga ada acara, dengan posisi bersebrangan. Aku dan teman akhwatku di seberang kiri jalan depan BCC, kang Seno dan seorang ikhwan tadi di sebrang jalan sebelah kanan depan Bank Danamon ( kalo ga salah ).

Besoknya, kang Win nanyain progress transfernya. Aku agak ngomel2 ( dulu ngomel2nya akhwat lebih galak dan tegas hehe… ).

Aku kasih tahu bahwa tadi malam aku tak sekelompok dengan Bayu. Dan kang Win keukeuh kalo tadi malem Bayu bareng aku.

Setelah agak lama pakeukeuh keukeuh, kang Win nanya ” Coba, semalem Imas bareng sama ikhwan yang mana ? “

( Fhuh…mana aku inget. Aku bisa dibilang sangat menghindari bertatapan atau melihat makhluk bergender ikhwan )

Saat itu melintas seorang ikhwan dari arah kantin menuju sekre.

” Tuh Bayu ” Kata kang Win.

Aku melirik sebentar, lalu buru buru nunduk. Aku tidak tahu apakah ikhwan itu yang semalem ada di seberang jalan atau bukan. Karena selain aku tak terlalu memperhatikan, suasana juga agak gelap dan jarak sangat jauh.

Tapi ada satu hal yang membuatku cukup kaget. Ikhwan yang barusan ditunjuk oleh kang Win bernama Bayu itu berbeda dengan ikhwan yang waktu itu keluar dari sekre. Tapi memang sama. Tinggi, berkacamata. GF Firdaus. ( kelak aku baru ngeuh kalo yang keluar dari sekre dulu itu adalah Fikri yang GF Firdaus juga hehe… Aku nanyanya salah sih, cuma nanya GF, dalam hal ini si teman akhwat yang aku tanya tidak salah menjawab )

Setelah kejadian itu, tetap saja aku belum bisa mengidentifikasi penampakan seniorku yang bernama Bayu itu.

Setelah hampir setahun baru aku bisa mengenal tampang2 ikhwan karisma termasuk Bayu. Itupun dengan interaksi yang sangat terbatas, sebatas urusan dakwah yang benar benar TERBATAS !!!

Ternyata beberapa tahun kemudian, sosok ‘ ga jelas ‘ ( hehe…peace !! ) itu mengucapkan mitsaqan ghalidza di depan ayahku.

——————————————————————————————-

Tulisan ini bil khusus untuk seseorang yang padanya aku menghaturkan sepenuh hormat dan takdzim untuk perbincangan siang itu :

” Siapa namanya ? “

” Afrendy Bayu Adhy Prakosa “

” Kuliah ? Jurusan ? Angkatan ? “

” ITB. Elektro. 2001 “

” MBnya ? “

” Ustadz Fulan “

” Minta no kontak ustadz Fulan !, Sejak kapan kalian kenal ?”

…aku mengingat2 kapan aku mulai gabung di karisma terutama Jaringan…

” 2001 “

” Jadi kalian pacaran sejak 2001 ? “

Deg. Andai tahu, jujgement itu sangat melukaiku lahir batin…

sampai saat ini.

Cukup untuk memberiku pelajaran untuk hati2 menjaga dzon

Aku memilih diam dan beristighfar dalam hati.

Sampai saat ini.